Meski Terhenti di Babak Final, Kisah Perjuangan 4 Finalis Genera-Z Berbakti 2026 Bikin Salut
Tim finalis UNPAD saling berpelukan dengan tim IPB Unversity BCA Genera-Z Berbakti 2026. (c) KapanL
Kapanlagi.com - Perjalanan menuju babak final Genera-Z Berbakti 2026 jelas bukan hal yang mudah. Ratusan tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia telah melewati proses seleksi yang panjang sebelum akhirnya delapan finalis terbaik berhasil mengamankan tempat di Grand Final. Sayangnya, namanya kompetisi selalu ada yang melangkah lebih jauh dan ada pula yang harus mengakhiri perjalanan.
Empat finalis, yakni UIN Sunan Gunung Djati Bandung, IPB University, Universitas Cendrawasih, dan BINUS University, telah memberikan kemampuan terbaik mereka. Mereka datang membawa gagasan, inovasi, dan mimpi besar untuk mengabdi di Desa Bakti BCA. Meski belum berhasil lolos, semangat mereka untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat tetap menyala.
Advertisement
1. UIN Sunan Gunung Djati Bandung Bawa Inovasi Teknologi, Tapi Harus Mengakhiri Perjalanan
Pertarungan pertama mempertemukan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memperebutkan kesempatan menjalankan program KKN di Desa Wisata Kreatif Terong, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung.
Diwakili oleh Tri, Tessa, dan Rifki, tim UIN Bandung tampil percaya diri dengan membawa berbagai inovasi, termasuk alat penguji kualitas air yang mampu mendeteksi pH, kandungan mineral, hingga logam di dalam air. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh kualitas air yang lebih baik.
Meski begitu, panelis memiliki pertimbangan tersendiri terkait implementasi teknologi di masyarakat. Pertimbangan tersebut salah satunya datang dari Tri Mumpuni atau yang akrab disapa dengan Puni.
"The best technology if you can bring as close as possible, sesuai dengan kemampuan rakyat. Itu pendekatan tekno-antropologi ya. Kalian banyak membawa hal-hal baru, tetapi ini memang masih harus dibuktikan dulu. Untuk membawa satu teknologi saja, perlu waktu 5-10 tahun sampai orang itu paham," pesan Puni kepada para peserta di akhir sesi battle UIN Bandung dan UGM.
Pada akhirnya, UGM terpilih untuk merealisasikan program KKN di Desa Wisata Kreatif Terong. Hasil tersebut tentu meninggalkan rasa kecewa bagi perwakilan dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Meski langkah mereka terhenti, semangat pengabdian mereka dipastikan tidak ikut berhenti.
"Aku sudah diamanahkan. Ada harapan yang kita tanggung dari teman-teman kelompok juga. Aku agak merasa bersalah sebenarnya dari situ," ujar Tessa.
Sementara itu, Tri mengungkapkan rasa terima kasih pada teman-teman seperjuangannya. "Ingat teman-teman yang sebelas orang yang di Bandung sedang berharap gitu ya. Tapi ya kita saling kuatkan. Terima kasih sudah hadir dan berjalan bersama sejauh ini," ungkap Tri.
"Jujur, sebenarnya agak sedikit kecewa. Tapi pada dasarnya Allah tahu yang terbaik. Dan memang mungkin rezeki kita bukan di Desa Terong itu sendiri," ujar Rifki.
2. IPB University Sempat Dipuji Cinta Laura Kiehl, Namun Belum Berhasil Lolos
Battle kedua mempertemukan IPB University dengan Universitas Padjadjaran (UNPAD) untuk memperebutkan tiket menuju Desa Gunung Padang, Jawa Barat.
IPB University yang diwakili oleh Lubna, Miki, dan Tya mengusung program Sabilulungan Lestari. Beragam sistem dan teknologi diperkenalkan untuk membantu masyarakat, mulai dari pengukuran produktivitas lahan hingga analisis kualitas udara. Presentasi mereka bahkan sukses mencuri perhatian salah satu panelis, Cinta Laura Kiehl.
"Kalau melihat program IPB University, buat aku orang awam yang mungkin memang ekspertisnya bukan di bidang ini, aku sangat suka dengan roadmap yang kalian bangun, sehingga aku sebagai orang luar bisa mengerti apa yang berusaha kalian capai," ungkap Cinta Laura Kiehl.
Meski mendapatkan apresiasi, keputusan panelis menetapkan UNPAD sebagai tim yang berhak menjalankan program di Desa Gunung Padang. Rasa sedih pun tak bisa disembunyikan oleh para perwakilan IPB University.
"Mohon maaf aku masih belum bisa mewujudkan mimpi bareng-bareng untuk pengabdian ke Desa Gunung Padang. Tapi kita masih bisa bareng-bareng menciptakan dampak. Aku percaya pada kita. Thank you," ujar Lubna.
"Aku mau minta maaf buat temen-temen karena aku belum bisa bawa kalian ke Desa Wisata Gunung Padang. Terima kasih guys!" kata Miki.
Tya pun menambahkan rasa bangga pada teman-teman seperjuangannya. "Kita sudah sampai sini, jadi aku tetep bangga biarpun kita nggak bisa lolos," ujar Tya.
Walaupun belum menjadi pemenang di BCA Genera-Z Berbakti 2026, IPB University percaya masih banyak kesempatan lain untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
3. Universitas Cendrawasih Bangga Bawa Suara dari Timur Indonesia
Universitas Cendrawasih menjadi satu-satunya finalis yang berasal dari ujung timur Indonesia. Tim yang terdiri dari Elis, Lika, dan Monik berhadapan dengan Universitas Airlangga (UNAIR) untuk memperebutkan kesempatan menjalankan KKN di Desa Patakbanteng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Mereka membawa konsep transformasi desa sehat, lestari, dan berdaya melalui empat program utama, yaitu NutriMom, CEHATI, Trashformer, dan DesaSehat.id. Sayangnya, hasil akhir membuat tim UNAIR terpilih untuk merealisasikan program mereka di Desa Patakbanteng.
Meski kecewa, tim Universitas Cendrawasih tetap menunjukkan sikap positif.
"Sebenarnya terasa gagal sekali karena kalah. Ini menjadi satu dorongan yang kuat. Kalau saya gagal di sini, saya yakin saya punya ide-ide yang sangat besar dan bagus, bisa membangun lagi di tempat lain," ungkap Elis.
Di sisi lain, Monik juga merasa senang dapat diberikan kesempatan menyampaikan ide dan programnya hingga sampai di tahap battle Genera-Z Berbakti 2026.
"Hari ini kita udah senang banget, udah bisa nyampein ide-ide dari teman kita, yang kita bawa jauh-jauh dari timur. Siapapun yang berangkat dan tim UNAIR yang berangkat, kita ngerasa bangga juga sama apa yang sudah jadi hasil keputusan dari panelis," jelas Monik.
"Dengan apa yang udah kita latih, dengan apa yang udah kita tulis, ternyata memang belum hasilnya. Kita udah keren, udah sejauh ini. Kita satu-satunya kontestan yang dari timur. Jadi jangan berkecil hati walaupun kita kalah, tapi tetap semangat untuk menjalani proyek-proyek yang lain," ujar Lika.
Walaupun perjalanan mereka di kompetisi harus berhenti, semangat membawa perubahan dari Timur Indonesia tetap menjadi kebanggaan tersendiri.
4. BINUS University Tetap Berjuang Meski Presentasi Tak Berlangsung Ideal
Pertarungan terakhir mempertemukan BINUS University dengan Universitas Indonesia (UI) untuk memperebutkan tiket KKN di Desa Wisata Kakaskasen Dua.
Diwakili oleh Preti, Ria, dan Hiro, BINUS University menawarkan program regenerasi budaya, penguatan UMKM, serta digitalisasi berbasis komunitas guna mengembangkan potensi Desa Kakaskasen Dua.
Namun, perjuangan mereka tidak berjalan mulus. Hiro yang merupakan motor dari tim BINUS University jatuh sakit. Pada akhirnya, hanya Preti dan Ria yang maju mempresentasikan ide mereka di hadapan panelis.
Meski menghadapi situasi yang tidak mudah, keduanya tetap tampil maksimal hingga akhir sesi. Sayangnya, panelis memilih UI sebagai tim yang akan menjalankan program di Desa Kakaskasen Dua.
Rasa sedih pun diungkapkan oleh para anggota tim. Salah satunya, Ria yang menegaskan dirinya tidak akan berhenti mengabdi masyarakat. Ia meyakini akan ada kesempatan lain yang bisa digunakan untuk kegiatan serupa.
"Sedih, kecewa. Yang penting kita sudah memberikan yang terbaik dan selanjutnya kita tetap akan mengabdi untuk masyarakat," ungkap Ria.
Perjalanan BINUS University memang berakhir di babak final, tetapi semangat mereka untuk terus mengabdi bagi Indonesia tidak ikut berakhir.
5. Perjuangan Boleh Berhenti, Semangat Mengabdi Tetap Berjalan
Genera-Z Berbakti bukan sekadar kompetisi untuk mencari pemenang. Ajang ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat lewat ide-ide kreatif yang mereka miliki.
Empat tim memang harus menghentikan langkah di babak final. Namun, perjuangan mereka membuktikan bahwa kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Keberanian membawa gagasan, belajar dari setiap proses, dan tetap ingin mengabdi kepada masyarakat menjadi pencapaian yang tak kalah berarti.
Penasaran seperti apa implementasi program dari empat tim pemenang yang berhasil lolos, yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, Universitas Airlangga dan Universitas Indonesia di Desa Bakti BCA pilihan mereka? Saksikan perjalanan lengkap BCA Genera-Z Berbakti 2026 di YouTube Solusi BCA, atau kunjungi bca.id/genzberbakti. Tayangan inspiratif ini juga dapat disaksikan melalui Vidio.
(Ibunda Zaskia Adya Mecca Alami Serangan Stroke dan dibawa ke UGD.)
(kpl/wri)
Advertisement
D Academy 8
-
Event Dangdut Potret Tasya Allesia Hibur Para Penonton di Kediri
-
Dangdut Academy Harsiwi Achmad Tegaskan Couple Muncul Alami di Dangdut Academy 8
-
Ulang Tahun Selebritis Ulang Tahun Soimah Dirayakan di Panggung Dangdut Academy 8
