Top 8 Genera-Z Berbakti 2026 Berkumpul di Jakarta, Siap Adu Gagasan demi Bawa Perubahan Nyata

Momen pertemuan para finalis Top 8 Genera-Z Berbakti 2026. (c) Adrian Utama Putra/KapanLagi.com
Kapanlagi.com - Setelah melewati proses seleksi yang ketat dari ratusan proposal yang masuk, akhirnya delapan tim terbaik BCA Genera-Z Berbakti 2026 resmi melangkah ke tahap berikutnya. Mereka berkumpul di Jakarta untuk mengikuti babak presentasi yang akan menjadi penentu langkah menuju fase implementasi program di desa pilihan.
Perjalanan menuju Top 8 tentu bukan hal yang mudah. Di balik setiap proposal yang berhasil lolos, ada kerja keras, proses panjang, hingga harapan besar untuk membawa perubahan nyata bagi masyarakat. Kini, para finalis harus menghadapi tantangan baru sekaligus bertemu dengan peserta dari berbagai kampus di Indonesia.
Suasana hangat, rasa gugup, hingga cerita-cerita inspiratif pun mewarnai pertemuan pertama mereka. Seperti apa keseruannya?
Advertisement
1. Saat Para Finalis Saling Kenalan untuk Pertama Kalinya

Keseruan langsung terasa ketika para finalis mulai saling memperkenalkan diri. Datang dari kampus, daerah, dan latar belakang yang berbeda, momen ini menjadi kesempatan berharga untuk memperluas relasi sekaligus bertukar pengalaman.
Nauval Rajwaa Raysendria atau yang akrab disapa Nauval, finalis dari tim Universitas Gadjah Mada (UGM), mengaku senang bisa bertemu dengan banyak mahasiswa hebat dari berbagai daerah.
"Senang banget rasanya berkenalan dengan kawan-kawan lain. Program ini juga membantu kita banget untuk bertemu dengan orang baru yang beda kampus. Beda background dan culture, jadi bisa belajar dan jadi ilmu serta pengalaman baru,"
Hal serupa juga dirasakan oleh Divanykailla Aurora Nugroho atau Diva dari Universitas Indonesia (UI). Menurutnya, kesempatan bertemu dengan peserta lain tidak boleh disia-siakan begitu saja.
"Untuk mengakrabkan diri dengan teman baru sebenarnya kita lebih ke cari-cari topik kayak nanti kita bisa ngobrolin. Karena dari yang kita tahu orang-orang di sini bukan orang-orang biasa, mereka pasti hebat. Jadi kita nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk belajar hal baru sama mereka," ujarnya.
Meski awalnya sempat canggung, suasana perlahan mencair. Para finalis mulai saling berbagi cerita, pengalaman organisasi, hingga ide-ide yang mereka bawa dalam kompetisi ini.
(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)
2. Kisah Haru di Balik Perjalanan Menuju Jakarta

Di balik semangat yang terlihat, ternyata banyak cerita menyentuh yang menjadi bahan bakar perjuangan para finalis.
Elisabet Ayomi atau Elis, salah satu finalis dari tim Universitas Cendana, membagikan pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan. Perjalanan menuju Jakarta menjadi pengalaman pertamanya bepergian jauh seorang diri.
"Ini tuh pertama kali aku ke Jakarta dari Jayapura. Seru sih perjalanannya, tapi ini bener-bener pengalaman pertama naik pesawat sendirian, pergi jauh, tanpa keluarga,"
Tak hanya itu, ada juga kisah mengharukan dari Tri Febriansah atau yang biasa disapa Tri, finalis UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia mengenang sosok almarhum kakeknya yang selama ini menjadi salah satu sumber motivasi terbesar dalam hidupnya.
"Ada beberapa penyesalan yang dulu tuh nggak kesampaian sampai sekarang. Saya tuh ingin mengajak kakek untuk hadir di acara awarding yang saya terima. Tapi, ternyata Allah lebih sayang sama kakek. Dan saya tuh selalu ingat kakek dan keluarga lain yang jadi penyemangat agar saya menjadi orang berguna. Program ini menjadi pembuktian bahwa saya bisa sampai sejauh ini," ujar Tri.
Cerita-cerita seperti inilah yang membuat perjalanan para finalis terasa lebih bermakna. Bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ruang untuk membuktikan bahwa mimpi besar bisa membawa seseorang melangkah lebih jauh.
3. Saatnya Masuk Impact Arena dan Adu Ide di Hadapan Panelis

Setelah sesi perkenalan yang hangat, para finalis kembali dihadapkan pada tantangan yang tak kalah menegangkan. Mereka harus mempresentasikan proposal terbaik di depan panelis yang terdiri dari Nicholas Saputra, Cinta Laura Kiehl, dan Tri Mumpuni.
Sebelum memasuki arena kompetisi, para peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan Rules of The Game yang akan menentukan tim mana yang berhak melanjutkan programnya hingga tahap implementasi di desa pilihan.
Kompetisi ini terdiri dari tiga tahapan utama. Stage 1 adalah Idea Pitch, di mana setiap tim diberikan waktu 10 menit untuk mempresentasikan program terbaik mereka.
Selanjutnya ada Stage 2, yaitu Think Tank. Pada tahap ini, satu perwakilan tim akan menerima pertanyaan dari panelis dan harus menjawabnya dalam waktu 60 detik untuk setiap pertanyaan.
Tahap terakhir adalah Head to Head. Di sinilah dua tim yang berada pada desa yang sama akan saling beradu argumen, memberikan pertanyaan, menjawab, sekaligus mempertahankan ide mereka dalam dua putaran. Menariknya, setiap tahap harus diwakili oleh anggota tim yang berbeda.
Meski tantangannya tidak mudah, Fauzyiah Putri Rudiyanto atau yang akrab disapa Uzi dari tim Universitas Gadjah Mada mengaku optimistis dengan program yang mereka usung.
"Kalau dari saya lumayan pede karena sebenarnya untuk sustainable tourism itu tidak hanya terkait budaya tapi kita juga menyangkut tentang lingkungan yang ada di sana yang mana kita harus menjaga potensi lingkungan yang ada untuk bisa kita maksimalkan dan kita rawat kita jaga. Oleh karena itu kenapa ada sustainable tourism itu bukan untuk mengeksploitasi tapi memang untuk menjaga lingkungan yang sudah ada,"
Dengan semangat, keyakinan, dan ide-ide yang telah dipersiapkan matang, para finalis kini siap memasuki Impact Arena untuk membuktikan siapa yang paling layak melanjutkan perjuangan membawa dampak nyata bagi masyarakat.
Penasaran bagaimana keseruan, ketegangan, dan cerita inspiratif para finalis saat menghadapi tantangan pertama mereka? Tonton langsung cerita selengkapnya di episode perdana Genera-Z Berbakti 2026 di YouTube Solusi BCA atau ketik bca.id/genzberbakti. Temukan juga di Vidio.
(BCL Bantah Isu Hamil, minta netizen stop berasumsi.)
(kpl/wri)
Advertisement
D Academy 8
- Lesti Kejora Berita TerbaruPotret Lesti Kejora - Alexa di Panggung Dangdut Academy 8, Cantik dan Glamor












































