6 Puisi Fiersa Besari yang Menyentuh Hati, Mewakili Perasaan yang Mendalam

Jum'at, 15 Januari 2021 19:00 Penulis: Dhia Amira
6 Puisi Fiersa Besari yang Menyentuh Hati, Mewakili Perasaan yang Mendalam
Fiersa Besari (credit: © KapanLagi.com/Daniel Kampua)


Kapanlagi Plus - Fiersa Besari merupakan merupakan penulis sekaligus penyanyi yang populer di kalangan generasi milennial dan Z. Tulisan serta lirik lagunya seakan mewakili kaum patah hati yang membuatnya dikenal banyak orang. Kata-kata bahkan puisi Fiersa Besari begitu populer karena bisa menyentuh hati setiap orang.

Ada banyak sekalia karya Fiersa Besari dalam hal menulis. Fiersa dikenal sebagai sosok romantis, tidak salah jika ia sering membagikan kata-kata romantis kepada para penggemarnya melalui buku maupun sosial media. Kata maupun puisi Fiersa Besari yang romantis ini sering dijadikan referensi beberapa orang untuk diberikan kepada pasangan atau hanya sekadar untuk dijadikan caption di sosial media.

Untuk itulah, selain kata-kata kalian juga bisa loh menunjukkan sisi romantis atau menunjukkan sebuah perasaan di dalam hati menggunakan puisi Fiersa Besari. Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini 6 puisi Fiersa Besari yang menyentuh hati.

1. Perantau

Teruntuk Ibuku sayang,
Maaf, aku belum bisa pulang,
Mengadu nasib di negeri orang,
Kerap bergadang demi peluang...

Iya, aku masih ingat kau pernah bilang bahwa,
yang terpenting bukanlah uang,
Namun,
aku tak ingin hari tuamu serba kurang,
Hanya karena aku tidak cukup keras berjuang.

Bertanding kasih denganmu,
Aku takkan menang,
karena demi aku,
maut pun rela kau tantang...

Tapi Ibu,
izinkan anakmu membanting tulang,
Seberes urusan,
aku akan secepatnya datang...

Karena di punggung tanganmu yang tenang,
adalah tempat keningku berpulang,
Dan jemaah denganmu kala sembahyang,
adalah kebahagiaan yang tak pernah Lekang...

2. Ibu

Engkau adalah ruang tam,
di mana segala tentangmu kubanggakan pada dunia,
Engkau adalah atap,
yang melindungi bumi dari hujan dan terik..

Engkau adalah pekarangan,
yang tak membiarkan jahatnya dunia luar memburuku,
Tanpa terlebih dahulu melewatimu...

Engkau adalah kamar,
tidur tempat aku merebah lelah,
Engkau bahkan tidak protes jika harus menjadi toilet,
tempatku memuntahkan keluh dan kesah...

Engkau bahkan tetap tersenyum jika harus menjadi garasi,
Tempat uap kemarahanku,
Menjadi karbon yang mematikan.

Ibu, engkau adalah rumah,
Tanpamu,
Aku tunawisma,
tanpa tempat pulang.

3. Tanpa Mula, Tanpa Akhir

Aku senang wangimu Yang tertinggal,
Di sela kalimat manis yang berpenggal-penggal,
Di antara reruntuhan kenangan yang membatu,
Wangimu, sayangku,adalah sebuah mesin waktu...

Aku suka matamu yang coklat penuh hasrat,
Membuat melangkah pergi darimu terasa sangat berat,
Dengan mata itu kau memandang alam semesta,
Dengan mata itu pula kau menjadikanku tak mampu berkata apa-apa.

Aku benci senyummu yang dipenuhi zat adiktif,
Sampai aku tak tahu lagi mana yang fakta, mana yang fiktif,
Senyum seindah senja itu tak pernah gagal membuatku gelagapan,
Membias jingga sebelum akhirnya menggiringku kekegelapan.

Aku rindu sosokmu yang memberitahu aku bahwa Cinta terpendam,
Adalah bahasa keheningan dengan hati yang saling menggenggam,
Jadi, Apakah salah jika selalu namamu Yang terukir?
Meski rasa ini tanpa nama,tanpa sebab, tanpa mula, tanpa akhir?

4. Salahkah Melangkah

Ledakan amarah di mana-mana,
di dunia nyata dan dunia maya,
Membenci demi sesuatu yang suci,
Menghina yang seharusnya dibina.

Anak kecil meniru-niru kita,
Dengan bangga memainkan senjata,
Mereka bertanya "dimana Bapak?",
Mati demi membela entah apa.

Kita manusia,
darah kita merah,
sesungguhnya,
tak banyak yang berbeda.

Sementara remaja mengejar gengsi,
Sibuk ber-selfie demi eksiatensi,
Kepedulian hanyalah sedangkal like dan komen,
di media sosial.

Buku dibiarkan,
amal ditinggalkan,
Kebohongan disebarluaskan.

Harus separah apa luka Dan Air Mata,
Agar kau lihat ada yang salah dengan kita?,
Semestinya merangkul bukan saling memukul,
Semestinya memeluk bukan saling menusuk.

Warna kulit berbeda,
Keyakinan berbeda,
Memang kenapa? Memang kenapa?
Kita saudara.

5. Ketika Kukira Aku Istimewa

Kukira hanya untukku dirimu. Ternyata kau terbagi ke segala penjuru, sporadis memberi angin surga pada kawanan pemangsa.

Masih kurangkah telinga ini mendengar keluh kesahmu?
Belum cukupkah waktuku untuk membalas segala aduanmu?
Jika aku yang kau rasa menenangkanmu, lantas mengapa ia yang menenangkanmu?

Siapa gerangan dirinya?
Dari mana datangnya?
Mengapa aku tidak melihatnya datang?

Tampaknya, terlalu rapi kau sembunyikan musuhku didalam selimutmu (siapapun yang berusaha merenggutmu akan kuanggap musuhku).
Jadi selama ini, saat aku berharap, mungkin saja kau dan dirinya sedang menikmati malam minggu bersama.
Saat aku terbuai, mungkin saja kalian sedang bergandengan tangan.
Saat aku hendak membantu masalah-masalahmu, sudah ada dirinya yang menjadi kesatria untukmu.
Bravo.
Luar biasa.

Dan kalah sebelum berperang adalah perasaan yang sangat menyebalkan.

Hari ini mau tak mau harus kembali lagi kupakai topeng senyumku. Kusimpan lagi perasaanku rapat-rapat.

"Selamat," kataku.

Padahal, bara membakar hati.
Sembari hangus, aku terus mengutuk diri sendiri.
Wahai kau yang berjubah api, puaskah kau menjadikanku arang? Sebenar-benarnya cemburu yang menyakitkan adalah cemburu pada seseorang yang tidak peduli akan perasaan kita.

Namun, ini bukan salahmu... Sungguh.

Memang aku saja yang tidak pernah cukup berani untuk menjabarkan apa yang sepatutnya kau ketahui.

"Selamat," ulangku dengan penuh kemunafikkan. Padahal, diam-diam kudoakan ia mati saja.

Kau tersenyum, matamu berbinar.
Entah lugu atau pura-pura tak mengerti mengenai apa yang kupendam.
Dan aku yang bodoh ini terkunci rapat-rapat didalam labirinmu; tak tahu jalan keluar.

Secara terselubung, kususupi hari-harimu dengan pengharapan.
Secercah harapan mampu hadir bahkan di ruang tergelap.
Tenang saja, kau takkan kehilangan segala perhatianku.
Aku hanya menyembunyikannya dengan lebih rapi lagi.

Ya.... Aku mengalah.
Aku mengalah karena aku percaya, kalau kau memang untukku.
Sejauh apapun kakimu membawamu lari, jalan yang kau tempuh hanya akan membawamu kembali padaku.

6. Zona Pertemanan

November, tahun pertama

Aku ingat pertama kali melihatmu.
Kau masuk ke dalam hidupku tanpa permisi, berputar bagai gasing di dalam pikiranku.
Entah kau milik siapa, hatiku keras kepala.

Ceritakanlah tentang harimu.
Berbincanglah sampai salah satu dari kita tertidur.
Aku tidak akan bosan dengan semua yang kau ketik.
Betapa sering aku menduga-duga, adakah kode yang tersirat dalam kolom 'chat' kita?

Aku tidak mau berdrama, tapi aku tidak bisa mengeluarkanmu dari kepalaku.
Aku tergila-gila hingga tak tahu lagi mesti berbuat apa.
Ini semacam hasrat purba yang lebih tua dari manusia.
Jika kau percaya akan 'jodoh', mungkin ini adalah contohnya.
Dan aku tidak berbicara perihal parasmu, atau apa yang engkau punya.
Ada sesuatu tentangmu yang membuatku merasa baik-baik saja, entah apa.

Kau selalu membuatku jujur mengenai segala hal, kecuali satu; perasaanku.
Andai saja aku mampu memberitahumu.
Tapi, aku terlalu takut akan reaksimu yang tidak sesuai dengan imajinasiku selama ini.

Bukankah fiksi lebih meninabobokan dibandingkan kenyataan?
Bukankah kita adalah dua orang yang terlanjur menikmati berkubang dalam zona pertemanan?

Tubuh kita berlumur harapan palsu. Tanganku menggapai-gapai mencari jalan keluar, sementara tanganmu mencegahku kemana-mana.

Tunggu sebentar..

Izinkan aku keluar dari zona pertemanan kita untuk sejenak.
Akan kutunjukkan padamu sebuah gerbang menuju dunia paralel.
Mari, ikut aku kesana.
Di dunia paralel, aku tidak perlu lagi repot-repot menyatakan apa pun.
Kau akan setuju untuk bersanding denganku tanpa perlu ada serentetan peristiwa yang membuat kita semakin pelik.
Aku akan menjadi bumi untuk mentarimu, lirik untuk lagumu, hujan untuk bungamu.

Di dunia paralel, keadaannya akan jauh berbeda.
Walau begitu, kau tahu aku akan tetap menjadi orang yang sama, yang merindukanmu dengan sederhana, mengejarmu dengan wajar, menyayangimu dengan luar biasa, dan menyakitimu dengan mustahil.

 

Itulah 6 puisi Fiersa Besari yang begitu populer dan sangat menyentuh hati. Bahkan puisi Fiersa Besari di atas banyak menunjukkan sisi perasaan banyak kaum muda dengan sangat baik. Sehingga tidak heran bila puisi Fiersa Besari ini begitu populer dan banyak dijadikan sebagai salah satu kalimat menyentuh untuk media sosial.

(kpl/dhm)

Editor:

Dhia Amira



MORE STORIES




REKOMENDASI