Jenis-Jenis Makna Kata dalam Bahasa Indonesia, Disertai Contoh Agar Lebih Paham

Kamis, 09 September 2021 17:22 Penulis: Puput Saputro
Jenis-Jenis Makna Kata dalam Bahasa Indonesia, Disertai Contoh Agar Lebih Paham
Ilustrasi (credit: usplash)


Kapanlagi Plus - Sudah sejak lama kata-kata merupakan bagian dari bahasa yang kerap menjadi media bagi seseorang untuk mengungkapkan gagasan. Lewat kata-kata seseorang juga sering meluapkan isi hati. Oleh karenanya, dalam kata-kata yang kita gunakan sehari-hari terkandung makna kata tertentu, tergantung pada konteks maksud dan tujuan penggunaannya.

Saat mempelajari bahasa asing, kita akan membutuhkan bantuan kamus untuk mengetahui arti dan makna dari suatu kata. Namun tanpa disadari, terkadang kita juga membutuhkan bantuan kamus atau pengetahuan lebih untuk mengerti suatu makna dalam kata atau kalimat bahasa Indonesia. Pasalnya, makna kata dalam bahasa Indonesia tak sebatas yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Dalam penggunaannya di keseharian, satu kata bisa mempunyai beberapa makna, tergantung pada konteksnya. Untuk memahami jenis-jenis makna dalam kata-kata di bahasa Indonesia, simak ulasan yang telah Kapanlagi.com rangkum dari berbagai sumber berikut ini.

 

1. Makna Kata secara Leksikal

Istilah kata leksikal sebenarnya berasal dari lesikon yang berarti kamus. Sehingga, makna leksikal merupakan makna atau arti kata tersebut seperti yang tertulis dalam kamus.

Sebagai contoh kata "doa" mempunyai makna leksikal permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan, sebab dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan demikian.

 

2. Makna Gramatikal

Makna kata dalam bahasa Indonesia yang kedua adalah makna gramatikal. Yang dimaksud makna gramatikal yaitu pemaknaan kata yang muncul karena adanya proses-proses gramatik, seperti afiksasi.

Sebagai contoh, proses afiksasi dengan prfiks atau awalan "ber-" pada kata 'kerudung', sehingga mengubah kata tersebut menjadi 'berkerudung'. Imbuhan "ber-" pada kata tersebut, telah mengubah makna kata kerudung yang semula bermakna kain penutup kepala, menjadi bermakna "mengenakan kerudung".

Selain afiksasi, makna gramatikal juga bisa dipengaruhi proses gramatik lain seperti proses komposisi, proses reduplikasi, serta proses komposisi atau kalimatisasi.

 

3. Makna Referensial

Seperti yang kita tahu, kata referensi merujuk pada suatu hal yang menjadi acuan. Karenanya, makna kata referensial berarti makna kata yang menunjukkan referensi atau acuan suatu kata pada kondisi di kenyataan.

Sebagai contoh kalimat kalimat langsung:

- "Tadi saya bertemu dengan Rifa," kata Budi pada Joni.

Pada kalimat tersebut, kata "saya" mengacu pada Budi.

Bandingkan dengan kalimat langsung berikut:

- "Saya ingin sekali bisa berjumpa dan ngobrol dengan Budi," kata Joni.

Pada kalimat tersebut, kata "saya" mengacu pada Joni.

 

4. Makna Non-referensial

Berkebalikan dengan makna referensial, makna kata non-referensial merupakan kata yang tak mempunyai referensi atau acuan di kondisi nyata. Biasanya, kata-kata ini bisa berupa artikel, partikel, dan kata hubung. Contoh kata-kata dengan makna non-referensial yaitu 'dan', 'atau', 'serta', 'karena', 'maka', 'sebab', 'jika', 'sehingga', dan sebagainya. 

 

5. Makna Konotatif

Makna konotasi mungkin sudah familiar karena sering dibahas dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Ya, makna konotasi adalah makna kata yang berupa kiasan atau bukan merupakan makna yang sebenarnya. Makna ini biasa digunakan untuk menunjukkan nilai rasa, sikap sosial, atau pandangan tertentu. Oleh sebab itu, kata dengan makna konotatif sering dijumpai pada kalimat-kalimat dalam karya sastra.

Sebagai contoh:

- Para caleg berebut suara rakyat untuk bisa memenangkan pemilu.

Pada kalimat tersebut, frasa "suara rakyat" merupakan kata dengan makna konotasi. Sehingga, kata tersebut tidak bisa diartikan sebagaimana suara atau bunyi yang bisa dijumpai di keseharian.

 

6. Makna Denotatif

Berbanding terbalik dengan makna konotasi, makna denotasi adalah makna kata dalam arti yang sebenar-benarnya bukan kiasan. Makna denotatif relatif tak jauh beda dengan makna leksikal dari suatu kata. Oleh karena itu, kata dengan makna denotatif biasa dijumpai dalam penulisan yang bersifat ilmiah.

Sebagai contoh:

- Andi tidak lolos seleksi paduan suara karena dia mempunyai suara yang cempreng.

Pada kalimat tersebut, kata suara merujuk pada bunyi atau suara yang memang bisa dijumpai atau dikeluarkan Andi sehari-hari. Hal ini diperjelas dengan keterangan berupa kata sifat, yaitu sempreng.

 

7. Makna Kontekstual

Makna kata kontekstual merupakan makna dari sebuah kata yang muncul berdasarkan suatu konteks penggunaannya dalam suatu frasa atau kalimat. Sebagai contoh kata "kepala" pada frasa "kepala desa". Makna kata kepala dalam frasa tersebut akan berbeda dengan makna kata "kepala" secara leksikal. Berbeda juga dengan makna kata "kepala" dalam frasa lain seperti "kepala kereta", "kepala besar", dan sebagainya.

 

8. Makna Emotif

Selanjutnya, ada pula yang disebut dengan makna kata secara emotif. Secara umum, makna emotif adalah makna dalam kata atau frasa yang berkaitan dengan perasaan. Artinya, pemaknaan dari kata tersebut tergantung dengan emosi atau perasaan yang dirasakan seseorang saat mengucapkan atau menuliskan kata tersebut.

Makna emotif biasa ditemukan dalam kata-kata sifat yang mewakili perasaan, seperti senang, sedih, susah, dan sebagainya. Atau bisa juga melalui kata kerja yang juga dapat menggambarkan emosi seseorang, seperti menangis, tertawa, menyesal, dan sebagainya.

Itulah di antaranya jenis-jenis makna kata dalam bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan.

 

(kpl/gen/psp)

Editor:

Puput Saputro



MORE STORIES




REKOMENDASI