Kamu Produktif atau Sudah Terjebak Jadi Toxic Productivity Nih?
(c) Shutterstock
Kapanlagi.com - Dikenal punya produktivitas tinggi, generasi masa kini memang cenderung super sibuk? Biarpun beberapa waktu belakangan ini menjalani kegiatan dari rumah saja, tapi deretan agenda menguras waktu jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari bekerja hingga maraton virtual meeting dengan rekan kerja atau klien.
Berbagai kesibukan tersebut diam-diam wajib diwaspadai, lho. Sebenarnya kamu termasuk produktif atau malah sudah terjebak di zona toxic productivity sih? Kenali lebih jauh, yuk!
Advertisement
1. Toxic Productivity: Obsesi untuk Selalu Sibuk
Produktif itu baik. Tapi saat sudah berubah jadi obsesi, hati-hati jadi kurang baik bagi kesehatan mentalmu. Toxic productivity sendiri diartikan sebagai obsesi untuk terus mengembangkan diri dan merasa bersalah jika tidak bisa melakukan banyak hal. Kondisi ini juga berkembang dari budaya dan kebiasaan masa kini yang seringnya memberikan apresiasi lebih pada orang-orang yang super sibuk dan bisa melakukan berbagai hal dalam satu waktu.
Sebenarnya hal itu sama sekali nggak salah. Namun, bisa jadi membahayakan kesehatan fisik dan mental jika yang dilakukan berlebihan. Bahkan sampai mengabaikan kegiatan lain, misalnya saja makan, minum, me time, istirahat, dan berbagai hal lainnya.
(Vidi Aldiano meninggal dunia setelah 6 tahun berjuang lawan kanker.)
2. Ciri Toxic Productivity yang Wajib Disadari
Lalu, gimana sih cara membedakan produktivitas yang kamu lakukan sudah tepat atau malah mengarah pada kebiasaan yang buruk? Wajib banget memperhatikan beberapa ciri toxic productivity ini, KLovers!
Jika kegiatan bekerja yang dilakukan sudah berlebihan sampai mengabaikan kondisi kesehatan atau hubungan sosial dengan orang-orang di sekitar, bisa jadi adalah tanda kamu mulai mengarah pada toxic productivity. Telat makan sampai sakit, selalu menolak ajakan teman karena terlalu sibuk, atau malah nggak bisa meluangkan waktu buat keluarga adalah sinyal yang menandakan kamu mulai terjebak pada toxic productivity.
Tanda lainnya adalah kamu mulai memiliki ekspektasi yang tidak realistis terhadap diri sendiri. Misalnya saja kurangnya kemampuan untuk beradaptasi atau perubahan yang ada karena telah menetapkan sebuah standar yang tinggi dalam mencapai tujuan. Buat para pekerja, kurangnya kemampuan adaptasi jelas jadi hal yang bisa menimbulkan rasa stres dalam diri dan mengganggu kesehatan mental.
Sinyal lain yang paling jelas adalah selalu merasa bersalah ketika beristirahat. Padahal badan dan pikiran sudah lelah, tapi saat beristirahat selalu terbayang-bayang pekerjaan yang seharusnya dilakukan. Kalau sudah mengalami hal ini, tandanya kamu terjebak dalam toxic productivity.
3. Gimana Caranya Biar Nggak Terjebak Toxic Productivity?
Supaya tidak terjebak pada produktivitas yang berlebihan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah hal tersebut. Diawali dengan membuat tujuan atau goals yang realistis, namun usahakan harus sefleksibel mungkin dengan kondisi yang ada. Selain itu, jangan lupa untuk beristirahat dari semua kegiatan saat tubuh mulai merasa lelah. Percayalah kalau dengan beristirahat, produktivitas bisa lebih meningkat dan kamu pun bisa bekerja lagi dengan lebih efektif.
Selain itu, saatnya belajar untuk melakukan praktik mindfulness, yaitu hal yang bisa membuat diri kita terhubung dengan kejadian saat ini sehingga dapat membuat pikiran lebih tenang. Mindfulness juga membuat kamu lebih paham dengan kebutuhan diri, misalnya saat membutuhkan makan, ke kamar mandi, tidur, dan lain sebagainya.
Sudah membaca berbagai penjelasan di atas? Sekarang makin paham dong kalau kamu memang beneran produktif atau malah terjebak pada kondisi toxic productivity, KLovers! Yuk, saatnya lebih menjaga kesehatan fisik dan mental dengan melepaskan diri dari toxic productivity!
(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)
(kpl/wri)
Advertisement