Mukhabarah Adalah Kerja Sama antara Pemilik Tanah dan Petani, Ketahui Pengertian Rukun dan Syarat-Syaratnya

Rabu, 13 Januari 2021 14:11 Penulis: Puput Saputro
Mukhabarah Adalah Kerja Sama antara Pemilik Tanah dan Petani, Ketahui Pengertian Rukun dan Syarat-Syaratnya
Ilustrasi (credit: freepik)


Kapanlagi Plus - Islam menjadi agama yang mengedepankan akhlak umatnya. Oleh karena itu, dalam agama Islam terdapat beragam aturan dan anjuran yang mengatur kehidupan umatnya. Termasuk dalam hal menjalin kerja sama, terdapat aturan agar tidak ada pihak yang dirugikan, salah satunya mengenai mukhabarah. Secara umum mukhabarah merupakan aturan dalam kerja sama mengolah lahan.

Mukhabarah adalah istilah yang masih masih cukup asing, bahkan bagi orang yang sedang mendalami agama Islam sekalipun. Pasalnya, urusan kerja sama mengolah tanah memang bukan hal yang populer dan sering dilakukan. Mukhabarah lebih sering terjadi di kalangan petani, yang membuat kesepakatan untuk menggarap lahan bersama.

Sebagai negara agraris dan mayoritas muslim, rasanya penting untuk mempelajari apa itu mukhabarah. Mukhabarah adalah aturan kerja sama menggarap lahan yang sama-sama menguntungkan. Sehingga, mempelajari mukhabarah juga baik bagi siapapun termasuk kalangan non-Islam.

Untuk mengetahui lebih dalam apa itu mukhabarah, simak ulasannya berikut yang telah dirangkum dari dream.co.id.

 

1. Mengenal Mukhabarah

Dalam bahasa Arab istilah kata mukhabarah berarti mengerjakan tanah orang lain dengan adanya sistem bagi hasil antara pemilik dan penggarap. Dengan kata lain, mukhabarah adalah kerja sama yang terjalin berdasarkan kesepakatan antara pemilik lahan dan penggarap.

Dalam mukhabarah, biasanya pemilik lahan akan menyediakan lahan untuk ditanami dan dipelihara oleh penggarap. Selain menyediakan tenaga, penggarap juga akan menyediakan perlengkapan lain seperti benih. Hasil dari kegiatan pertanian tersebut nantinya dibagi sesuai kesepakatan.

Dhahir Nash Imam Syafi'i berpendapat bahwa mukhabarah adalah menggarap lahan dengan hal yang dikeluarkan dari tanah tersebut. Sedangkan menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri beranggapan bahwa dalam mukhabarah pemilik hanya menyerahkan tanah kepada pekerja, kemudian modal selama proses bertani ditanggung oleh pengelola atau penggarap.

 

2. Dasar Hukum Mukhabarah

Dalam Islam, mukhabarah bukanlah hal yang baru. Pasalnya, sejak zamannya dahulu Rasulullah sudah menerapkan prinsip kerja sama ini. Hal ini tampak pada beberapa hadis yang kemudian dijadikan salah satu dasar hukum dari mukhabarah oleh para ulama.

Adapun hadis-hadis tentang mukhabarah adalah sebagai berikut.

1. "Barang siapa yang mempunyai tanah, hendaklah ia menanaminya atau hendaklah ia menyuruh saudaranya untuk menanaminya" (HR. Bukhari).

2. "Diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. sesungguhnya Rasulullah SAW, melakukan bisnis atau perdagangan dengan penduduk Khaibar untuk digarap dengan imbalan pembagian hasil berupa buah-buahan atau tanaman," (HR. Bukhari).

 

3. Syarat dan Rukun Mukhabarah

Layaknya aturan atau adab lain dalam Islam, mukharabah juga mempunyai sejumlah syarat dan rukun yang harus terpenuhi. Syarat dan rukun menjadi hal yang bersifat wajib agar mukhabarah yang dijalankan sah di mata agama.

Adapun syarat mukhabarah adalah sebagai berikut.

1. Pemilik tanah dan penggarap harus orang yang sudah baligh dan berakal.

2. Peralatan dibebankan kepada petani penggarap lahan.

3. Lahan harus bisa menghasilkan, jelas batas-batasnya, dan diserahkan sepenuhnya kepada penggarap.

4. Benih yang akan ditanam harus jelas dan menghasilkan.

5. Jangka waktu harus jelas menurut kebiasaan masa tanam dan masa panen.

6. Pembagian hasil harus jelas dan sesuai dengan ketentuannya.

Sementara itu, adapun rukun-rukun dari mukhabarah adalah sebagai berikut.

1. Adanya pemilik tanah yang sah.

2. Adanya petani atau penggarap tanah.

3. Tanah yang akan digarap.

4. Proses ijab dan qabul membuat kesepakatan dilakukan secara lisan.

 

4. Hal-Hal yang Membatalkan Mukhabarah

Mukharabah adalah kerja sama dalam mengolah lahan dengan dasar hukum agama Islam. Oleh karena itu, mukharabah bisa dinyatakan batal atau berakhir secara Islam apabila mengalami beberapa hal berikut ini.

1. Apabila telah usai masa mukhabarah sesuai dengan kesepakatan saat akad atau ijab qobul. Dengan kata lain, jika bermaksud melanjutkan mukhabarah, maka harus memulai dari proses akad kembali.

2. Apabila salah satu pihak meninggal dunia.

3. Adanya uzur misalnya tanah garapan terpaksa dijual pemiliknya dengan alasan krusial. Misalnya untuk membayar hutang. Atau conttoh lain, semisal si penggarap tanah tidak dapat mengelola tanah dikarenakan sakit.

4. Apabila telah terjadi bencana alam, misalnya banjir yang melanda tanah garapan, sehingga mengakibatkan kondisi tanah dan tanaman rusak.

 

5. Perbedaan Mukhabarah dan Muzara\'ah

Selain mukharabah, terkait kerja sama menggarap tanah dalam Islam ada pula yang disebut muzara'ah. Sekilas, konsep keduanya terkesan mirip yaitu membuat kesepakatan kerja sama menggarap lahan yang sama-sama menguntungkan. Akan tetapi, jika ditelisik lebih dalam sebenarnya terdapat perbedaan di antara keduanya.

Perbedaan tersebut di antaranya diungkapkan oleh para ulama Syafi'iyah. Mukhabarah adalah mengelola tanah di atas sesuatu yang dihasilkannya dan benihnya berasal dari pengelola. Sementara itu, muzara'ah sama seperti mukhabarah, hanya saja benihnya berasal dari pemilik tanah. Artinya, perbedaan mendasar keduanya terletak pada bagian modal, khususnya terkait penyediaan benih.

Itulah di antaranya ulasan mengenai penjelasan mukharabah adalah kerja sama menggarap lahan antara pemilik tanah dan petani. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan.

 

(kpl/psp)

Editor:

Puput Saputro



MORE STORIES




REKOMENDASI