Raup Untung, Pasar Sepeda Bekas Hidup Kembali di Kala Pandemi

Minggu, 22 November 2020 14:44 Penulis: Dhia Amira
Raup Untung, Pasar Sepeda Bekas Hidup Kembali di Kala Pandemi
credit: Dhia Amira


Kapanlagi Plus - Pandemi covid-19 memang menjadi salah satu hal yang sangat menggemparkan di tahun 2020 ini. Masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia dituntut untuk menjalankan hidup sehat agar terbebas dari virus covid-19 yang sewaktu-waktu bisa menyerang. Dan salah satu gaya hidup sehat yang saat ini banyak digemari oleh masyarakat Indonesia yaitu bersepeda.

Tren ini cukup menyita perhatian banyak orang, bukan hanya masyarakat biasa saja tapi juga para selebriti bahkan pejabat negara pun mengikuti tren bersepeda ini. Sehingga membuat para pedagang sepeda mendapatkan penghasilan dan bangkit di saat pandemi ini.

Salah satunya yang ikut menjadi sorotan yaitu, pasar sepeda bekas Gappsta (Gabungan Pedagang Perantara Sepeda Yogyakarta) di Yogyakarta. Berawal dari komunitas sepeda yang ingin melestarikan sepeda, hingga akhirnya mereka mendapatkan tempat untuk menjual sepeda. Membuat pasar ini menjadi salah satu incaran para pemburu sepeda yang ingin mengikuti tren di kala pandemi.

Pasar sepeda Gappsta sudah berdiri sejak tahun 1967, dan masih bertahan hingga saat ini. Pak Bagyo, salah satu anak dari pendiri komunitas dan pasar sepeda Gappsta ini banyak menceritakan bagaimana para anggota komunitas yang berjuang di awal pandemi, hingga tren sepeda yang membantu mereka dalam menyambung hidup di kala pandemi ini.

 

1. Menjadi Pasar Mati

Pada awal pandemi Pak Bagyo dan kawan-kawan harus berjuang untuk bertahan dari fenomena yang mengubah kehidupan secara drastis. Mereka tak mendapatkan penghasilan karena tragedi yang mengharuskan banyak orang untuk tinggal di rumah. Beliau juga berkata bahwa pasar sepeda Gappsta seperti pasar mati yang tidak memiliki aktivitas apapun.

"Di awal pandemi kita sudah tidak bisa apa-apa, nggak ada orang yang dateng sama sekali. Benar-benar seperti pasar mati. Tapi kita masih dibantu dengan komunitas lain yang menggalang dana dan kasih bantuan dalam bentuk sembako," ucap pak Bagyo.

Ya, tak dapat dipungkiri bahwa awal pandemi menjadi salah satu hal yang cukup mengejutkan bagi masyarakat Indonesia, tak terkecuali pada Pak Bagyo dan kawan-kawan. Banyak dari mereka yang bergantung pada penjualan sepeda, ada pula yang memiliki penghasilan sampingan, namun tetap tak bisa menghasilkan di kala pandemi ini.

 

2. Bangkitnya Pasar Sepeda di Kala Pandemi

Pada akhirnya mereka sepakat untuk membuka pasar kembali agar mendapatkan penghasilan di kala pandemi. Setelah 2 bulan pandemi akhirnya tren bersepeda mulai muncul. Hal ini tentu disambut dengan baik oleh Pak Bagyo dan teman-teman. Bahkan mereka mendapatkan keuntungan yang luar biasa, karena harga sepeda di pasaran yang melonjak naik.

"Sebelum pandemi kita membeli sepeda dengan harga yang relatif murah. Tapi saat pandemi harga sepeda naik, jadi kita ikut menjual seperti harga di pasaran," lanjut pak Bagyo.

Tentu saja hal ini menjadi sebuah keuntungan bagi para penjual sepeda dari berbagai tempat, salah satunya pasar sepeda Gappsta. Bahkan karena permintaan pasar yang tinggi, para penjual sepeda bekas ini sampai tak cukup memenuhi semua keinginan.

 

3. Produk yang Langka

Setelah tren bersepeda di kala pandemi ini sangat populer, dan digemari banyak orang. Banyak dari masyarakat yang berlari untuk mencari sepeda, dari sepeda baru hingga sepeda bekas. Walaupun dengan harga yang tinggi, mereka rela membeli demi untuk hidup sehat dan mengikuti tren di kala pandemi ini.

Namun sayang, hal ini membuat produk yang mereka inginkan tak bisa terpenuhi. Pengurangan pegawai di pabrik sepeda juga menjadi salah satu alasan yang membuat produksi sepeda berkurang, dan tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar. Hal ini juga yang menjadi salah satu tantangan bagi para pedagang sepeda, khususnya para komunitas penjual sepeda Gappsta.

Pak Bagyo juga berkata bahwa bukan hanya sepeda baru atau bekas saja yang sulit untuk ditemukan, bahkan untuk onderdil sepeda pun sulit.

"Saya cari di mana-mana, cari onderdil itu juga sulit. Sulit sekali. Masalahnya juga itu, pabrik juga nggk produksi. Cuma stok-stok yang ada di toko dan stok yang ada di pasar ini aja yang berputar,"  ungkap pak Bagyo.

 

4. Pasar yang Kembali Sepi

Karena melonjaknya harga sepeda dan minimnya barang yang akan dijual, membuat keadaan pasar Gappsta pun kembali menurun. Walaupun di awal tren sepeda banyak sekali masyarakat yang datang untuk membeli sepeda. Tetapi saat ini pasar sudah kembali sepi pembeli.

Hal ini karena barang yang dibutuhkan masyarakat tidak terpenuhi, yang akhirnya menjadi salah satu alasan pasar kembali sepi. Pak Bagyo berkata bahwa ada jenis-jenis sepeda tertentu yang laris di pasaran kala tren bersepeda saat pandemi ini. Dan jenis sepeda tersebut yaitu sepeda gunung dan juga sepeda lipat.

Walaupun awal tren bersepeda pasar ramai pengunjung, bahkan lebih ramai dari biasanya. Namun kali ini keadaan pasar kembali turun dan sepi pengunjung. Ada beberapa yang kembali datang ke pasar, tapi untuk menjual sepeda mereka. Dan walaupun ada yang datang untuk menjual sepeda, para pedagang sepeda ini tak berani membeli sepeda tersebut karena harga jual yang mereka tawarkan tinggi.

 

5. Pandemi yang Melestarikan Pasar

Pasar Gappsta sejak awal dibuat bertujuan untuk melestarikan sepeda yang ada di Yogyakarta. Bahkan Pak Bagyo berkata bahwa, walaupun ia dan para anggotanya juga menjual sepeda melalui media online. Tetapi mereka tidak terlalu fokus pada penjualan online, karena semua demi melestarikan pasar sepeda Gappsta.

Mereka menjual melalui media online karena mengikuti zaman yang saat ini berkembang. Namun tetap, tujuan Pak Bagyo dan para bapak-bapak lainnya masih pada melestarikan pasar Gappsta yang sudah dibangun sejak tahun sekitar 1967.

Pak Bagyo dan teman-teman senang dengan adanya tren bersepeda di kala pandemi ini. Karena hal tersebut, secara tidak langsung masyarakat ikut melestarikan sepeda dan juga pasar sepeda Gappsta yang ada di Yogyakarta. Namun hal ini belum terjadi secara total, karena menurut pak Bagyo pasar ramai karena hanya ada tren bersepeda saja. Selain itu masih banyak masyarakat yang lebih memilih melakukan pembelian melalui situs online, karena lebih memudahkan para konsumen untuk membeli.

Dari semua perjuangan yang dilalui oleh Pak Bagyo dan anggota komunitas penjual sepeda lainnya di pasar Gappsta, nyatanya mereka tetap mensyukuri apapun yang terjadi selama pandemi ini. Dan tetap berusaha untuk melestarikan pasar sepeda Gappsta yang sudah dibangun sejak lama hingga saat ini.

 

(kpl/dhm)

Editor:

Dhia Amira



MORE STORIES




REKOMENDASI