Penjelasan Sifat Sholat Nabi Sebagai Contoh Sholat Umat Islam

Rabu, 05 Mei 2021 12:44 Penulis: Anik Setiyaningrum
Penjelasan Sifat Sholat Nabi Sebagai Contoh Sholat Umat Islam
Ilustrasi (Credit: Freepik)


Kapanlagi Plus - Sholat merupakan rukun Islam yang harus ditepati oleh seorang yang meyakini ajaran Islam dan berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat (bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya). Berdasarkan informasi yang dilansir dari nu.or.id, sholat disebut sebagai ibadah paling Islam karena beberapa ritual dalam Islam merupakan akulturasi budaya dari agama sebelumnya. Aturan sholat pun sudah ditentukan dengan mengikuti sifat sholat Nabi Muhammad SAW selaku penerima wahyu dan utusan Allah SWT.

Walaupun sudah jelas bahwa panutan umat Islam adalah Nabi Muhammad SAW, tapi masih banyak yang berselisih paham mengenai sifat sholat nabi yang harus dipenuhi. Sebenarnya, perbedaan pendapat yang berujung penghakiman seperti itu perlu dihindari karena hanya akan mengurangi konsentrasi dalam beribadah. Meyakini sifat sholat nabi seharusnya dibarengi dengan niat yang baik untuk benar-benar beribadah dalam jalan mencari ridha Allah SWT.

Nah, untuk menghindari perbedaan pendapat yang berujung keributan, simak informasi mengenai sifat sholat nabi yang dilansir dari berbagai sumber berikut ini.

 

1. Sunnah Sifat Sholat Nabi

Mengikuti sunnah sifat sholat nabi dalam beribadah bisa mendatangkan banyak berkah bagi yang mengerjakannya. Mengenai hal tersebut, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah? Dilengkapilah dengan amalan sunnah itu ibadah-ibadah fardhunya, begitu lah seterusnya amalan-amalannya."

Berdasarkan anjuran tersebut, sudah sewajarnya bagi seorang muslim untuk meniru sunnah sifat sholat nabi berikut ini.

1. Sholat Sunnah Rawatib (Qabliyah dan Ba'diyah)

Amalan sunnah Nabi Muhammad SAW yang perlu diteladani sebagai sunnah sifat nabi, yaitu sholat sunnah rawatib. Sholat ini dikerjakan empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah Magrib dan dua rakaat setelah Isya, serta dua sebelum Subuh.

2. Sholat Malam

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda,

"Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan ialah puasa bulan Muharam. Dan sholat yang paling afdal setelah sholat fardhu ialah sholat malam."

3. Sholat Dhuha

Sholat Dhuha dikerjakan setelah matahari mulai terbit dari seperempat jam setelah terbitnya matahari. Ibadah sunnah ini bisa dilakukan hingga seperempat waktu sebelum sholat Dzuhur.

Dalam hadis riwayat Muslim, dari Abu Dzar RA, Nabi Muhammad SAW bersabda,

"Hendaknya seseorang mengeluarkan sedekah untuk setiap sendi tulangnya pada pagi hari. Maka setiap tasbih itu adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Tetapi untuk menggantikan hal itu, cukup baginya melakukan sholat Dhuha dua rakaat."

Amalan sunnah Nabi Muhammad SAW ini dikerjakan sebanyak 11 atau 13 rakaat paling utama.

"Nabi SAW melakukan sholat sejumlah sebelas rakaat. Itu lah sholat beliau." dan "Beliau melaksanakan sholat malam sebanyak tiga belas rakaat."(Hadis riwayat Bukhari)

4. Berdoa setelah wudhu

Dari Umar RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan, 'Asyhadu an laa laaha illallahu wa anna muhammadan 'abduhu wa rasuuluhu' Akan dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan, ia dapat masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki."

5. Menggosok gigi dengan siwak

Menggosok gigi dengan siwak merupakan amalan sunnah Rasulullah. Dari hudzaifah, ia berkata

"Nabi SAW jika beliau bangun pada malam hari, beliau menggosok giginya dengan siwak."

Dalam riwayat Muslim, "Jika Nabi SAW bangun untuk melaksanakan sholat tahajud, beliau menggosok giginya dengan siwak."

 

2. Sifat Sholat Nabi dalam Buku

Informasi yang terdapat dalam buku Sholatlah Seperti Rasullullah (Dalil Keshahihan Sholat ala Aswaja) yang dilansir dari nu.or.id, merupakan jawaban terhadap beberapa persoalan tentang penghakiman pada perbedaan pandangan terhadap sifat sholat nabi. Karena sholat merupakan perintah agama, maka di dalam mendirikannya ada sebuah tuntunan: cara dan waktu.

Sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari "shalluu kama raaitumuunii ushalli" (sholatlah, seperti kalian melihat aku sholat). Sholat tidak bisa dilaksanakan sesuai dengan keputusan dan pemahamanannya sendiri-sendiri.

Kenapa demikian? Karena ketika seseorang hendak dan melaksanakan sholat berarti ia akan menghadap dan berdialog dengan yang Maha Suci. Tidak bermaksud untuk menggurui tetapi hendak meluruskan beberapa praktek sholat yang telah menyimpang sebagaimana yang digariskan oleh Rasulullah SAW, seperti sabdanya shalluu kama raaitumuunii ushalli.

Ahlussunnah wal jamaah, spesifik warga nahdhiyyin (sebutan dari warga Nahdlatul Ulama-NU) yang selalu mendapat tudingan bahwa terdapat praktek-praktek bid'ah di dalam melakukan sholat.

Tidak bermaksud untuk mengkalim bahwa praktek sholat yang dilakukan oleh kelompok ini yang paling benar, hanya saja ingin memberikan penjelasan bahwa beberapa bacaan dan gerakan dalam sholat adalah berdasar pada sebuah dalil: Al-Quran, Hadis Nabi, dan qaul beberapa ulama klasik juga untuk memantapkan (menghilangkan keragu-raguan) kalau dikatakan praktek sholat dilakukan oleh warga nahdhiyyin itu tidak berdasar pada dalil syar'i.

Buku ini dimulai dari bahasan mengenai keutamaan sholat, apa saja persiapan sebelum sholat, gambaran bagaimana Rasullullah mengerjakan sholat, amaliah (wiritan) setelah sholat, keutamaan sholat berjamaah, hal-hal yang perlu dihindari ketika sedang sholat, dan macam-macam sholat sunnah. Masing-masing topik bahasan itu disertai dengan bacaan, dalil Quran dan Hadis Nabi serta pendapat ulama-ulama klasik.

 

3. Sifat Sholat Nabi dalam Buku

Mengikuti sifat sholat nabi merupakan hal yang sudah seharusnya dilakukan oleh umat islam. Hal tersebut merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW :

"Sholatlah seperti kalian melihat aku sholat." (HR. Bukhari).

Berikut ini terdapat resensi buku yang dilansir dari nu.or.id yang bisa menjadi salah satu referensi dalam mempelajari sifat sholat nabi. Sudah jelas jika seseorang melaksanakan sholat harus sama dengan sholat Rasulullah SAW. Selain itu, ibadah yang berkaitan dengan sholat, misalnya wudlu', tayamum, dan dzikir juga ada penjelasannya. Saat memmbaca judul buku itu yang muncul dalam benak kalian adalah gambaran sholatnya orang Nahdliyyin.

Namun, itu hanya judul dan bukan garis pembatas bagi orang yang ingin belajar. Buku itu cocok dibaca siapa saja, termasuk warga Muhammadiyah dan seluruh orang Islam. Buku itu adalah Buku Sholat Pedoman Umat.

Seperti yang telah dijelaskan dalam buku Tuntunan Sholat Untuk Warga NU Dan Dalil-Dalilnya, sholat secara bahasa berarti do'a. Sedangkan menurut istilah ialah suatu ibadah yang terdiri dari perbuatan dan perkataan yang dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Di dalam sholat ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Diantaranya ada syarat wajib sholat, syarat sah sholat, dan syarat diterimanya sholat. Ini yang harus diperhatikan pertama kali ketika akan melaksanakan sholat. (halaman : 34-35) Yang harus menjadi catatan disini adalah syarat wajibnya sholat, sahnya, sampai diterimanya sholat.

Misalnya, syarat wajibnya sholat sudah terpenuhi, belum tentu sholat itu sah. Sahnya sholat harus juga diperhatikan. Selanjutnya, syarat wajibnya dan syarat sahnya sudah terpenuhi, belum tentu juga diterima sholatnya. Karena masih ada syarat diterimanya sholat.

Intinya, yang tiga itu memang harus diperhatikan. Apa saja syarat wajibnya sholat, sahnya sholat, dan diterimanya sholat? Syarat wajibnya sholat, sahnya sholat, dan diterimanya sholat ini banyak yang harus dipelajari dan tidak mungkin saya dijelaskan secara detail dalam tulisan yang hanya beberapa kata ini.

Dalam buku itu menjelaskan secara rinci hal apa saja yang berhubungan dengan sholat. Di dalamnya terdapat dalil-dalil baik Al-Quran, Hadis maupun kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama. Hadirnya buku yang ditulis oleh KH M Sholeh Qosim, MSi dan A Afif Amrullah, M.EI itu juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh sebagian golongan umat Islam. Sebab belakangan ini ibadah kita terutama sholat mulai dipertanyakan dalil-dalilnya.

Hadirnya buku itu memperjelas kebenaran atau keabsahan ibadah. Mengenai qonut yang sangat kontroversial di kalangan umat Muslim juga dibahas dengan sangat rinci dalam buku yang setebal 187 itu.

Membaca buku itu, qanut sebagai doa yang dibaca setelah i'tidal itu tidak perlu dipertanyakan lagi tentang kesunnahannya. Semua sudah dijelaskan. Membaca bukunya tercermin sifat kehati-hatian dalam mengambil dalil-dalil baik Al-Quran maupun Hadis.

Itulah penjelasan mengenai sifat sunnah nabi beserta amalan yang bisa kalian lakukan sebagai wujud meniru sifat sholat nabi. Semoga dilimpahkan keberkahan.

 

(kpl/ans)



MORE STORIES




REKOMENDASI