Tata Cara dan Niat Mandi Wajib Serta Keutamaan Berdasarkan Ajaran Islam

Kamis, 15 April 2021 14:11 Penulis: Anik Setiyaningrum
Tata Cara dan Niat Mandi Wajib Serta Keutamaan Berdasarkan Ajaran Islam
Ilustrasi (Credit: Freepik)


Kapanlagi Plus - Kesucian badan merupakan salah satu syarat sahnya ibadah, seperti sholat dan puasa. Jika terjadi peristiwa yang menyebabkan seseorang terkena hadas, maka orang tersebut harus membersihkannya dengan melafalkan niat mandi wajib dan mengikuti aturan yang sudah ada.

Perintah menyucikan diri ditemukan langsung dari firman Allah SWT, juga dari sabda Rasulullah SAW. Salah satu usaha menyucikan diri yaitu, mandi wajib untuk membersihkan hadas besar pada tubuh. Untuk mengetahui tentang penyebab, anjuran, dan niat mandi wajib, simak informasi yang dilansir dari berbagai sumber berikut ini. Dan tak hanya itu saja, kalian pun perlu tahu bagaimana tata cara mandi wajib.

 

 

 

1. Perintah Niat Mandi Wajib

Perintah untuk menyucikan diri telah disampaikan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW, maka tak perlu ada ragu lagi untuk melaksanakannya sesuai anjuran. Agar lebih yakin lagi, langsung saja simak informasi berikut ini.

Yaaa ayyuhal ladziina aamanuu laa taqrabus Salaata wa antum sukaaraa hatta ta'lamuu ma taquuluuna wa la junuban illaa 'aabirii sabiilin hatta taghtasiluu; wa in kuntum mardhaa aw 'alaa safarin aw jaaa'a ahadum minkum minal ghaaa'iti aw laamastumun nisaa'a falam tajiduu maa aan fatayammamuu sha'iidhan thayyibaan famsahuu biwuju hikum wa aydiikum, innallaaha kaana 'afuwwan ghafuuraan.

Artinya: "Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun. [QS. An-Nisa: 43].

Rasulullah SAW juga bersabda: Laa taqbalu shalaatu man ahdatsa hatta littawadhdhaa.

Artinya: "Tidak akan diterima shalat orang yang hadats sampai ia wudhu." (HR: Bukhari dari Abu Hurairah).

 

 

 

2. Tata Cara dan Niat Mandi Wajib

Niat mandi wajib berbeda-beda, tergantung penyebabnya. Untuk mengetahuinya, simak macam-macam niat mandi wajib berikut ini.

1. Niat mandi besar yang disebabkan junub mimpi basah, keluar mani, persetubuhan, bertemunya kedua kemaluan walaupun tidak mengeluarkan air mani :

"BISMILLAHI RAHMANI RAHIM NAWAITUL GHUSLA LIRAF'IL HADATSIL AKBAR MINAL JANABATI FARDLON LILLAHI TA'ALA"

Artinya : "Dengan menyebut nama Allah Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari jinabah, fardlu karena Allah Ta'ala"

2. Niat mandi besar setelah berhentinya haid :

"BISMILLAHI RAHMANI RAHIM NAWAITUL GHUSLA LIRAF'IL HADATSIL AKBAR MINAL HAIDI FARDLON LILLAHI TA'ALA"

Artinya : "Dengan menyebut nama Allah Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari haidl, fardlu karena Allah Ta'ala"

3. Niat mandi besar setelah berhentinya nifas :

"BISMILLAHI RAHMANI RAHIM NAWAITU GHUSLA LIRAF'IL HADATSIL AKBAR MINAN NIFASI FARDLON LILLAHI TA'ALA"

Artinya :

"Dengan menyebut nama Allah Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari nifas, fardlu karena Allah Ta'ala"

Selain niat mandi wajib, ada juga sejumlah kesunnahan yang bisa dijalankan. Itulah yang disebut keutamaan mandi wajib yang sayang untuk dilewatkan.

Imam al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah secara teknis menjelaskan adab mandi wajib dengan cukup rinci mulai dari awal masuk kamar mandi hingga keluar lagi.

1. Saat masuk ke kamar mandi ambilah air lalu basuhlah tangan terlebih dahulu hingga tiga kali.

2. Bersihkan segala kotoran atau najis yang masih menempel di badan.

3. Berwudhu sebagaimana saat wudhu hendak shalat termasuk doa-doanya. Lalu pungkasi dengan menyiram kedua kaki.

4. Mulailah mandi janabah dengan mengguyur kepala sampai tiga kali--bersamaan dengan itu berniatlah menghilangkan hadas dari janabah.

5. Guyur bagian badan sebelah kanan hingga tiga kali, kemudian bagian badan sebelah kiri juga hingga tiga kali. Jangan lupa menggosok-gosok tubuh, depan maupun belakang, sebanyak tiga kali; juga menyela-nyela rambut dan jenggot (bila punya). Pastikan air mengalir ke lipatan-lipatan kulit dan pangkal rambut. Sebaiknya hindarkan tangan dari menyentuh kemaluan--kalaupun tersentuh, berwudhulah lagi.

Di antara seluruh praktik tersebut yang harus dilaksanakan hanyalah niat mandi wajib, membersihkan najis (bila ada), dan menyiramkan air ke seluruh badan. Selebihnya adalah sunnah muakkadah dengan keutamaan-keutamaan yang tak boleh diremehkan.

Orang yang mengabaikan kesunnahan ini, kata Imam Al-Ghazali, merugi karena sejatinya amalan-amalan sunnah tersebut menambal kekurangan pada amalan fardhu.

 

 

 

3. Sebab dan Hadis Niat Mandi Wajib Bagi Laki-laki

Berdasarkan kitab Bulugul Maram tentang Sebab dan Tata Cara Mandi Junub yang ditulis oleh Muhammad Abduh Tuasikal dan dilansir dari Rumaysho.com, terdapat hadis mengenai mandi karena keluar mani. Hadis tersebut berbunyi,

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Air itu dari air (mandi junub itu disebabkan karena keluar mani)." (Diriwayatkan oleh Muslim, dan asalnya hadis ini dari Al-Bukhari). [HR. Bukhari, no. 180 dan Muslim, no. 343, 345].

Faedah hadis

1. Air itu dari air, maksudnya adalah air untuk mandi junub disebabkan karena keluar mani (air yang keluar dengan memancar dan syahwat). Mani disebut juga dalam ayat dengan al-maa' (air).

2. Lafaz yang diucapkan nabi shallallahu 'alaihi wa sallam itu singkat, tetapi sarat makna.

3. Hadis ini menunjukkan wajibnya mandi karena keluar mani.

4. Apakah jika tidak keluar mani dianggap tidak ada mandi junub? Jawabannya, mandi junub memiliki sebab lainnya. Mandi junub bisa ada karena hubungan intim. Hubungan intim tanpa keluar mani jika sudah bertemu dua kemaluan tetap diwajibkan mandi junub.

5. Ternyata pada masa awal Islam, siapa saja yang menyetubuhi istrinya lantas tidak keluar mani, ia cukup istinjak dan berwudhu. Kemudian setelah itu datang hukum baru, yang berhubungan intim diperintahkan untuk tetap mandi dengan sekadar hubungan intim walau tidak keluar mani.

6. Sebagian ulama menjadikan dalil ini sebagai hukum terkait orang yang ihtilam (mimpi basah) seperti Imam An-Nasai menerapkan hal ini dalam kitab sunannya.

Selain itu, juga terdapat hadis tentang mandi karena hubungan intim walau tidak keluar mani.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika seseorang telah benar-benar melakukan hubungan intim dengan istrinya lantas bertemu dua kemaluan, ia diwajibkan untuk mandi." (Muttafaqun 'alaih) [HR. Bukhari, no. 291 dan Muslim, no. 348]

Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, "walaupun tidak keluar mani." [HR. Muslim, no. 348]

Faedah hadis

1. Hubungan intim diwajibkan mandi junub. Hal ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan.

2. Walaupun tidak keluar mani, hubungan intim tetap diwajibkan mandi junub.

 

 

 

4. Sebab dan Hadis Niat Mandi Wajib Bagi Perempuan

Ada beberapa perbedaan mengenai penyebab seorang perempuan dan laki-laki dalam melafalkan niat mandi wajib. Hal tersebut bisa kalian lihat dalam informasi berikut ini.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, bahwasanya Ummu Sulaim ia adalah istrinya Abu Thalhah berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidaklah malu menyebutkan kebenaran. Apakah wanita tetap mandi junub jika mimpi basah?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Iya, tetap mandi junub jika ia melihat air." (Muttafaqun 'alaih) [HR. Bukhari, no. 282 dan Muslim, no. 313]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang seorang wanita yang bermimpi sebagaimana mimpinya seorang laki-laki, "Hendaklah, ia mandi." (Muttafaqun 'alaih) [HR. Muslim, no. 311. Pernyataan Ibnu Hajar bahwa hadits ini riwayat Bukhari tidaklah tepat karena hadits ini hanya dikeluarkan oleh Muslim saja].

Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, Ummu Sulaim berkata, "Apakah hal ini terjadi?" Beliau menjawab, "Iya, lalu dari mana datangnya persamaan?"

Faedah hadis

1. Ummu Sulaim adalah Sahlah binti Milhaan Al-Anshariyyah, ia adalah ibunda dari Anas bin Malik. Ia adalah sahabat wanita dan memiliki periwayatan hadis. Suaminya dahulu adalah Malik bin An-Nadhr di masa Jahiliyyah. Dari hubungan dengan suaminya tersebut, lahirlah sahabat Anas. Ketika datang Islam, Ummu Sulaim bersama kaum Anshar masuk Islam. Suaminya kemudian marah besar. Kemudian suaminya pergi ke Syam hingga meninggal dunia. Setelah itu, Ummu Sulaim dikhitbah oleh Abu Thalhah Zaid bin Sahl Al-Anshari Al-Khazraji.

Ummu Sulaim hanya menginginkan keislaman Abu Thalhah sebagai maharnya. Akhirnya, Abu Thalhah pun masuk Islam. Yang menikahkan Ummu Sulaim adalah putranya Anas bin Malik. Ummu Sulaim terkenal sebagai wanita yang cerdas, paling kokoh hatinya, paling bagus adabnya, dan sangat religius. Kisah yang begitu masyhur dari Ummu Sulaim dan Abu Thalhah adalah ketika putranya meninggal dunia, malah malam harinya mereka melakukan hubungan intim. Setelah itu barulah Ummu Sulaim menceritakan anaknya yang telah meninggal dunia. Riwayat kisah ini terdapat dalam shahihain.

2. Hadis ini menunjukkan semangatnya Ummu Sulaim untuk belajar agama dan bagusnya adab Ummu Sulaim dengan sebelumnya menyampaikan uzur.

3. Seseorang sudah sepatutnya bertanya pada hal yang ia butuhkan termasuk pula dalam perkara yang ia merasa malu untuk diungkapkan.

4. Rasa malu seseorang jangan sampai menghalangi untuk mengetahui kebenaran dan jangan sampai mencegah dari bertanya.

5. Penempatan malu yang tidak tepat adalah ketika: (a) menghalangi dari bertanya pada sesuatu yang mesti ditanya, (b) meninggalkan mengajak pada yang makruf dan melarang dari yang mungkar, (c) luput dari berbagai hak.

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata,

"Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka mempelajari agama." (HR. Muslim, no. 332 dan diriwayatkan pula oleh Bukhari secara mu'allaq yaitu tanpa sanad).

1. Hadis ini jadi dalil kebenaran itu dari Allah.

2. Wanita juga diperintahkan mandi junub ketika mimpi basah, tetapi dipastikan harus keluar mani.

3. Orang yang mimpi basah ada tiga keadaan: (a) ada yang bermimpi erotis dan melihat adanya mani, maka diwajibkan mandi junub; (b) bermimpi erotis, tetapi tidak keluar mani, tidak ada kewajiban mandi junub; (c) melihat adanya mani, tetapi tidak bermimpi erotis, maka diwajibkan mandi junub karena bisa saja ia memimpikan sesuatu dalam tidurnya lalu lupa.

4. Jika bangun tidur, seseorang mendapati ada yang basah di pakaiannya dan tidak mengetahui mani ataukah bukan, saat tidur bermimpi erotis, cairan tersebut dihukumi mani. Jika tidak diketahui sama sekali mani ataukah bukan saat mendapati sesuatu yang basah ketika bangun tidur, padahal saat tidur tidak bermimpi erotis, dihukumi tetap mandi untuk kehati-hatian.

5. Adapun orang yang dalam keadaan sadar, keluar mani berarti diwajibkan mandi junub secara mutlak, meskipun keluarnya tidak dengan syahwat dan keluar dengan sebab apa pun. Inilah pendapat dalam madzhab Syafii, salah pendapat dari Imam Ahmad. Ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hambali berpendapat tetap disyaratkan memancar dan terasa nikmat.

6. Hadis ini jadi dalil bahwa wanita juga mengalami mimpi basah dan keluar mani sebagaimana pria.

7. Anak laki-laki atau anak perempuan akan menyerupai ayah atau ibunya dilihat dari mani yang keluar dari keduanya. Jika ada mani yang keluar lebih dulu saat hubungan keduanya, anak akan mirip dengannya.

Itulah pembahasan mengenai niat mandi wajib, penyebab, dan keutamaan sesuai ajaran Islam. Pada dasarnya, niat mandi wajib sama, hanya dibedakan pada sebab-sebab terjadinya hadas pada seseorang.

 

 

 

(kpl/ans)



MORE STORIES




REKOMENDASI