7 Fakta Krisis Ekuador dalam Tangani Corona Covid-19, Jasad Terlantar di Jalan

Selasa, 21 April 2020 16:05 Penulis: Dita Tamara
7 Fakta Krisis Ekuador dalam Tangani Corona Covid-19, Jasad Terlantar di Jalan
(credit: liputan6.com/Str/Marcos Pin/AFP)


Kapanlagi Plus - Ekuador jadi salah satu negara yang kewalahan menghadapi pandemi virus corona covid-19. Tepatnya, di kota Guayaquil di Ekuador mengalami kondisi mengerikan akibat pandemi virus corona. Banyak mayat menumpuk dan terlantar di jalanan. Bahkan layanan darurat rumah sakit juga mengalami kewalahan dalam menangani kasus tersebut.

Di media sosial juga banyak rekaman yang menunjukkan jenazah di biarkan di jalanan dan hanya terbungkus selimut. Wakil Presiden Ekuador, Otto Sonnenholzer, sempat meminta maaf kepada negara atas tanggapan lambat pemerintah terhadap pandemi ini. Pihaknya menambahkan jika Guayaquil berpenduduk padat dan memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi dengan penduduk yang tinggal berdekatan.

Lalu, apa sebenarnya penyebab krisis Ekuador dalam tangani corona hingga menyebabkan jasad terlantar? Berikut fakta dan ulasan lengkapnya:

 

 

1. Kurangnya Tes Covid dan RS Penuh Akibat Lonjakan Pasien

Laporan dari New York Times menyebut bahwa dari informasi dokter, tidak adanya cukup tes di negara Ekuador sehingga hal ini menyulitkan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi orang sakit. Diketahui kota terbesar Ekuador, pusat komersil yang dihuni hampir 3 juta orang, muncul sebagai pusat penyebaran virus corona baru di Amerika Latin.

Mereka yang mengetahui keluarganya mengalami sakit gejala corona, hanya bisa di rawat di rumah lantaran rumah sakit sudah penuh. Selain itu, rumah sakit kewalahan akibat melonjaknya pasien serta sedikitnya tempat tidur dan ventilator rumah sakit yang menyebabkan pasien terpapar virus corona tidak mendapatkan penanganan lebih lanjut.

2. Angka Kematian Tinggi

Angka kematian akibat virus corona di Ekuador kian menunjukkan jumlah angka yang tinggi, hingga menyebabkan wilayah ini paling terdampak. Hal tersebut, membuat sejumlah layanan kesehatan setempat lumpuh karena banyaknya pasien terpapar virus corona dan tidak mendapatkan penanganan semestinya.

Saking banyaknya jumlah korban yang berjatuhan akibat virus ini, dalam beberapa hari terakhir muncul gambar-gambar mengerikan dan permohonan dari keluarga di media sosial akibat orang yang mereka sayangi terbujur kaku menunggu dievakuasi.

3. Jasad Terlantar di Jalan

Pemandangan memilukan terlihat di Ekuador. Banyak jasad korban corona terlantar bergelimpangan di jalanan. Jasad tersebut hanya dibalut dengan selimut dan tertutup plastik. Bahkan, banyak dari warga yang hanya melihat fenomena tersebut tanpa tau apa yang harus mereka lakukan.

Jasad tak terhitungĀ bergelimpangan di jalan-jalan Guayaquil, Ekuador, sebuah kota Amerika Selatan yang terdampak virusĀ corona. Beberapa dari jasad tersebut terlantar di luar rumah, rumah sakit, atau bahkan berada di rumah duka. Warga Guayaquil sudah terbiasa dengan pemandangan jasad yang sudah bengkak dan dikerumuni lalat hingga tiga hari atau hampir sepekan.

4. Kekurangan Peti Mati

Fenomena melonjaknya jumlah kematian akibat virus corona di kota Guayaquil Ekuador, menyebabkan kekurangan peti mati, Ironisnya, penduduk setempat menggunakan kotak kardus untuk membungkus jasad.

Pihak berwenang di kota pelabuhan Pasifik mengatakan mereka telah menerima sumbangan 1.000 peti kardus yang dipres dari produsen lokal, dan mengirimkannya untuk digunakan di dua pemakaman lokal.

Kota Guayaquil merupakan wilayah yang terdampak akibat virus corona. Bahkan rumah sakit dan kamar mayat telah kewalahan akibat jasad yang terus menerus berdatangan, akibatnya, beberapa keluarga menyimpan jenazahnya di rumah.

5. Harga Peti Mati Melambung Tinggi

Akibat banyaknya permintaan peti mati membuat pengusaha peti mati mengalami kewalahan dan tidak dapat memenuhi permintaan tersebut. Diketahui harga peti mati termurah saat ini harganya sekitar US$ 400 atau sekitar Rp 6,4 juta.

Pengusaha Santiago Olivares, merupakan salah satu pengusaha peti mati mengungkapkan dirinya kekurangan bahan baku dasar untuk membuat peti mati seperti kayu dan logam. Kelangkaan tersebut membuat penduduk sekitar memanfaatkan kardus sebagai peti mati.

6. Militer Membersihkan Jasad di Jalan

Menurut Direktur untuk Amerika Latin dan Karibia di organisasi bantuan bencana Care, tati Bertolucci mengungkapkan situasi yang mengerikan terjadi di Guayaquil.

"Ada jasad di jalanan, dan sistem kesehatan kewalahan, jadi tidak semua orang yang memiliki gejala dapat dites atau dirawat."

Menurut Jorge Wated, Koordinator Satuan Tugas Pemerintah yang ditugaskan untuk mengatasi krisis, dalam hal ini, operasi gabungan polisi militer telah membersihkan sekitar 30 mayat per hari dari jalanan,

Diketahui, Ekuador mengidentifikasi kasus covid-19 pertamanya pada 29 Februari. Kasus itu bermula ketika seorang wanita berusia 71 tahun telah melakukan perjalanan dari Spanyol. Hal tersebut menjadikannya salah satu negara Amerika Latin pertama yang mengkonfirmasi kasus virus covid-19

7. Wapres Ekuador Meminta Maaf

Wakil Presiden Ekuador, Otto Sonnenholzer, meminta maaf kepada atas tanggapan lambat pemerintah terhadap pandemi virus ini.

"Kami telah melihat gambar-gambar yang seharusnya tidak pernah terjadi, dan sebagai pelayan publik saya, saya minta maaf," kata Sonnenholzer.

Guayaquil berpenduduk padat dan memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi, dengan banyak penduduk yang tinggal berdekatan.

(kpl/dtm/gen)

Editor:

Dita Tamara



MORE STORIES




REKOMENDASI